MASKAPAI ASING BERI SYARAT, KULON PROGO BUTUH HOTEL BINTANG 3 DAN RUMAH SAKIT INTERNASIONAL

Jum`at, 16 Agustus 2019 14:11:54 - Oleh : KR

HOTEL, APARTEMEN, SPBU ADA DI AEROTROPOLIS

BENTUK PTSP, BASARNAS TINGKATKAN PELAYANAN PUBLIK

DPMPT DAN ORI KULONPROGO TERIMA ADUAN MASYARAKAT

Kesepakatan Bersama Pemanfaatan SICANTIK Cloud di PTSP, SIARAN PERS NO. 164/HM/KOMINFO/08/2019

MODAL TERTANAM JARANG DILAPORKAN

DPD RI Perwakilan DIY Selasa (13/8/2019) menggelar rapat kerja menghadirkan stakeholder Kepolisian, Pemda DIY, Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO) dan Angkasapura terkait pembangunan di wilayah DIY. Berbagai masukan didapatkan yang nantinya akan dibawa ke pusat untuk diperjuangkan.


Dari berbagai masukan yang disampaikan, Pelaksana Tugas Sementara Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) Agus Pandu Purnama menyampaikan hal menarik di mana banyak maskapai asing yang tertarik mendaratkan pesawat di YIA namun masih terkendala syarat tertentu. Menurut Pandu belum tersedianya hotel minimal bintang 3 dan rumah sakit internasional menjadi catatan yang harus segera diwujudkan.


"Kalau ada cancel flight, paling tidak ada 400 orang dalam pesawat yang harus menginap. Ini yang diminta maskapai asing dan jadi kendala selama ini. Hotel bintang 3 sedang dibangun di dalam kawasan bandara untuk mengakomodasi jika ada pesawat ground bermalam, untuk kebutuhan kru dan sebagian penumpang, kurang lebih 70 kamar. Tapi kebutuhan investasi di luar kawasa bandara juga sangat dibutuhkan, hotel yang skalanya lebih besar," ungkap Pandu ditemui wartawan usai rapat kerja.


Anggota DPD RI wakil DIY Afnan Hadikusumo mengatakan untuk rumah sakit skala internasional, saat ini Muhammadiyah tengah membangun cabang PKU di kawasan Wates Kulon Progo yang jaraknya antara 5 hingga 10 kilometer dari bandara. Menurut Afnan, adanya rumah sakit memang sejak awal menjadi salah satu syarat bandara internasional yang kebetulan ditangkap dengan cepat oleh Muhammadiyah.


"Saat itu kebetulan yang siap dan punya lahan dari PKU Muhammadiyah, saat ini sudah dalam proses pembangunan. Harapannya ketika bandara kita disinggahi pesawat asing maka wisatawan ke DIY semakin naik dan masyarakat mendapat imbas kenaikan perekonomian juga," ungkap Afnan.


Senator DIY cucu Ki Bagus Hadikusumo tersebut juga melempar harapan agar aksesibilitas yang sedianya harus dikebut tersebut bisa segera selesai termasuk rencana koneksi bandara dengan wilayah DIY lainnya. "Mungkin bisa dimaksimalkan melalui kereta bandara seperti di Medan, karena kalau jalan tol kok dikhawatirkan akan mematikan ekonomi masyarakat sekitar di sana (Kulon Progo)," tandas dia.


Sementara GKR Hemas mengaku akan segera menindaklanjuti masukan dari stakeholder DIY terkait percepatan pembangunan tersebut. "Apa yang disampaikan hari ini sebagian besar terkait dengan percepatan pembangunan. Kami akan bawa ke pusat, kalau nanti ada peluncuran APBN, jadi prioritas kita tarik ke Jogja. Ada beberapa hal yang akan kita bahas di tingkat pusat," ungkap Hemas.


Dalam rapat kerja tersebut dibahas pula beberapa hal penting yakni penataan kawasan Malioboro dengan permasalahan kantong parkir hingga talud ambrol di Bintaran Wetan Piyungan yang menyulitkan akses penduduk bahkan membawa korban. Dibahas pula progres underpass Kentungan dan JJLS.

« Kembali | Kirim | Versi cetak