Ini Sektor Unggulan Pendorong Pertumbuhan Industri di 2018

Senin, 12 Maret 2018 09:28:20 - Oleh : Liputan 6

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan pertumbuhan industri pada 2018 mencapai 5,67 persen. Sejumlah industri unggulan masih akan menjadi penyumbang pertumbuhan industri di tahun depan.
Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan, sejumlah industri yang masih akan menjadi andalan untuk mendorong pertumbuhan industri di 2018 antara lain elektronik, makanan dan minuman, dan logam. Industri ini menunjukan tren pertumbuhan yang positif dalam beberapa tahun terakhir.
"Tentu kita melihat beberapa industri yang pertumbuhannya tinggi termasuk logam, elektronik, permesinan, makanan minuman, kemudian industri farmasi, itu merupakan dengan pertumbuhan yang tinggi, di atas pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu ini kita dorong juga untuk bisa mengembangkan menjadi penggerak dari pertumbuhan industri," ujar dia di kantor Kemenperin, Jakarta, Senin (11/12/2017).
Selain itu, lanjut dia, Kemenperin juga akan mendorong industri yang memiliki daya saing di pasar global, seperti industri otomotif. Dalam hal ini, Indonesia menggandeng industri di negara lain seperti di Jepang dan Korea Selatan.
"Di samping itu yang mempunyai daya saing besar di pasar global itu industri otomotif, elektronik, industri makanan minuman. Ini akan menjadi tiga penggerak utama untuk pasar regional bekerja sama dengan Jepang, Korea, juga untuk mengisi global value chain di ASEAN," kata dia.
Sedangkan untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja di dalam negeri, kata Airlangga, Kemenperin akan membantu pertumbuhan industri yang berbasis padat karya. Industri ini seperti tekstil, alas kaki, farmasi dan herbal.
"Sedangkan untuk peningkatan tenaga kerja, kita akan mendorong industri ekspor yang padat karya. Nah industri ini termasuk tekstil clothing dan footwear. Dan juga industri aneka yang menjadi andalan adalah industri perhiasan. Kita juga kembangkan industri farmasi, obat, herbal dan kosmetik. Jadi itu industri-industri yang didorong dan Indonesia sudah mempunyai pasar yang cukup kuat di ASEAN," tandas dia.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, penyerapan tenaga kerja dari sektor industri meningkat 1,5 juta orang selama 2017. Hal ini menunjukan perkembangan sektor industri nasional.
Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan, ‎sektor industri menyumbang 20 persen dalam Product Domestic Bruto (PDB), jika dengan industri turunan maka sumbangannya terhadap PDB sebesar 30 persen.
"Kalau kita lihat kontribui industri dibanding yang lain dalam PDB masih memberikan sumbangan yang besar," kata dia dalam seminar nasional outlook industri 2018, di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (11/12/2017).
Airlangga menyebutkan, pertumbuhan tertinggi sektor industri terdapat pada industri logam dasar sebesar 10,6 persen, makana‎n minuman 9,94 persen, kimia farmasi di atas 8 persen, mesin dan perlengkapan 6,35 persen, serta alat angkut 5,63 persen‎.
"Ini menunjukan‎ basis utama sektor industri keseluruhannya bergerak dan tumbuh," tuturnya.
Industri menjadi salah satu sektor strategis karena berperan penting dalam pembangunan nasional dan turut memacu pertumbuhan ekonomi. Tidak hanya sebagai penyumbang terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB), manufaktur juga mampu memberikan kontribusi tertinggi melalui setoran pajak.
"Aktivitas industri konsisten membawa multiplier effect yang signifikan bagi perekonomian di Indonesia. Oleh karena itu, kami terus fokus menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi para investor di dalam negeri," ujar dia.
Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu), realisasi penerimaan pajak dari sektor industri hingga kuartal III 2017 mencapai Rp 224,95 triliun atau tumbuh 16,63 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Capaian tersebut lebih besar dibandingkan sumbangan sektor perdagangan sebesar Rp 134,74 triliun, keuangan Rp 104,92 triliun, konstruksi Rp 35,40 triliun, informasi komunikasi Rp 32,19 triliun, pertambangan Rp 31,66 triliun, dan sektor lainnya Rp 156,19 triliun.
"Ini menunjukkan kinerja industri pengolahan nasional masih positif," ujar Airlangga.
Para pelaku usaha pun diharapkan dapat memanfaatkan berbagai paket kebijakan ekonomi yang telah diterbitkan oleh pemerintah dan bertujuan untuk kemudahan dalam menjalankan bisnis di Tanah Air.

« Kembali | Kirim | Versi cetak